“Mengapa kau tidak pernah memberikan rambu-rambu? Seperti kilat yang membuatku tidak mampu mempersiapkan sedikit tempat lebih luas untuk berlari.”
“Aku tak punya cukup ruang untuk menyimpan penyesalan
melihat kau berjalan bahkan walau hanya satu langkah dari sampingku.”
Si gadis berjalan menyusuri entah apa namanya. Mungkin
banyak orang menyebutnya jalan. Tapi bukankah jalan adalah sesuatu yang dapat
menghantarkan pada suatu tujuan? Sedangkan ia bahkan tidak punya tujuan.
Ia seperti melintasi kembali memori-memori masa lalunya.
Hanya sedikit sekali memori tentang sesuatu yang sedang ia susuri. Tapi mampu
menariknya untuk kembali lagi kesana.
Beberapa kali ia berhenti. Mungkin lelah. Atau tidak mampu
lagi mengeluh. Suara angin dan daun kering cukup membuatnya merasa
terintimidasi oleh memori masa lampau. Ia seperti tak mampu lagi berjalan meski
kakinya belum lelah. Matanya sudah cukup marah dipaksa melihat kembali apa yang
sebaiknya hanya sekelibat.
Ditekuknya kedua lutut. Bersimpuh. Ia tenggelamkan wajahnya
ke kedua telapak tangannya.
Lalu basah….

Ditekuknya kedua lutut. Bersimpuh. Ia tenggelamkan wajahnya ke kedua telapak tangannya.
ReplyDeleteLalu basah…. Anda Benci Klimaks ? Ketika "Basah" Disitulah Anda Meluapkan Ke Klimaksan Seluruh Langit..