Kau tahu seberapa keras usaha yang sudah kulakukan? Tentu tidak.
Beberapa waktu yang lalu aku bahkan belum menjadi aku yang kau kenal hari ini.
Aku tidak akan mengulang segala ceritanya, karena itu sama saja dengan memanggil semua rasa yang sudah susah payah kubuat menjadi biasa.
Di hari aku menyelesaikan segala yang tersisa, tepat di hari itu pula aku memutuskan untuk menjaga segala yang aku punya untukmu. Dua tiga kali mungkin aku masih kalah, tapi aku benci rasa bersalah. Aku tidak akan mengalah.
Ada sedikit ketakutan yang seringkali aku hindari, yaitu tentang segala pertanyaan di kepala, 'Apa yang buat aku yakin?'. Aku takut tidak bisa menjawabnya, lalu ragu tiba-tiba menang.
Aku ingat sekali kata seorang teman, tentang aku yang dianggapnya tidak menemukan seseorang yang bisa mengisi karena memang tidak pernah membuka diri. Lalu aku membukanya untuk kamu. Mempersilahkan kamu masuk lebih dalam walau harus bergantian menunggu ia pergi keluar dengan perlahan. Tidak masalah pikirku, toh aku pastikan kamu yang akan menjadi tuan rumah di akhir waktu. Ada banyak perbincangan yang akhirnya kamu buka. Aku justru terkesan dengan semakin banyaknya labirin yang kamu buat di dalam kepalamu. Beberapa kali sempat aku masih menjadi aku yang dulu kamu kenal. Tapi selalu kuingat lagi pesan temanku.
Suatu hari aku tidak bisa lagi menghindar dari ketakutan, seorang teman bertanya 'Apa yang buat aku yakin?'. Aku tersentak namun tetap mencoba terlihat tenang. Atau lebih tepatnya membuat diriku tenang. Aku ingat saat terakhir kita pergi untuk bersenang-senang, kamu dan aku memilih menonton film yang aku pilih walau aku tahu kamu tidak mengerti. Kamu tahu aku menyebut judul film itu berkali-kali dalam setiap pembicaraan kita baik dalam pesan teks maupun suara. Sampai kau kabulkan juga, mungkin kau mulai bosan mendengar judul film itu aku sebutkan. Tapi ada satu hal yang tidak pernah aku ceritakan kepada siapapun termasuk kamu, hari itu adalah hari dimana aku merasa kamu benar-benar orang yang tepat dan aku tidak akan pernah menyesal memilihmu. Bukan, bukan soal kamu yang rela menonton film yang tidak kau mengerti. Ini tentang aku yang selama setengah dari durasi film hanya melihat tanganmu menggenggam tanganku. Ini tentu bukan kali pertama kamu lakukan itu, tapi ini kali pertama dalam hidupku aku merasa tidak takut memilih dan mengambil keputusan.
Kembali ke pertanyaan yang diajukan temanku, aku menjawabnya dengan senyum. Lalu ku katakan bahwa aku menemukan apa yang aku butuhkan, tapi aku juga menemukan yang aku inginkan. Persetan kata orang bahwa lebih baik mengutamakan apa yang kita butuhkan daripada apa yang kita inginkan, toh aku menemukan keduanya pada dirimu. Pikiranku melayang pada pesan dari teman lainnya tentang memilih seseorang, 'Bayangkan dirimu dalam 10 tahun ke depan, pilihlah ia yang sekiranya kau butuhkan pada masa itu'. Tentu kau akan melihat dirimu yang berbeda dengan hari ini. Mungkin dimasa itu kau bukan lagi seseorang dengan ambisi seputar investasi. Mungkin dimasa itu kau tidak lagi butuh seseorang yang menceritakan tentang pergerakan bursa saham. Mungkin dimasa itu kau tidak lagi butuh orang yang berada pada tangga nada yang sama saat menyuarakan amarah. Mungkin dimasa itu kau hanya butuh teman. Teman yang selalu mendengarkan tanpa terus membenarkan.
Lalu mereka kembali bertanya, 'Bagaimana aku tahu tentang aku di masa yang akan datang?'. Aku juga bertanya mengenai hal itu, tapi aku tanyakan pada diriku sendiri. Aku dengarkan diriku. Aku temukan sisi mana yang sudah mulai meredup dan sisi mana yang cenderung menguat dariku. Lalu kubayangkan akan sekuat apa sisi itu 10 tahun ke depan, dan seberapa besar kecenderungan sisi lainnya menggantikan. Saat itulah aku tau apa yang aku inginkan saat itu dan apa yang aku butuhkan saat ini.
Sekarang aku percaya, find your equal, not your whole.
12/16/2018
10/01/2018
9/16/2018
Ruam
Ada banyak sekali alasan untuk menangis hari ini.
Kau bebas memilih rasa apa yang hendak kau pakai.
Genggaman yang menghangatkan.
Peluk erat yang menenangkan.
Ucapan yang menguatkan.
Tatapan yang melegakan.
Keras gertak yang menyadarkan.
Lembut sapa menyatakan rasa.
Acuh sikap yang bukan karena bosan.
Kebiasaan yang meninggalkan bekas.
Atau seseorang yang kini ada dan kau sangat takut menyakitinya.
“Cukupkanlah ikatanmu.
Relakanlah yang tak seharusnya untukmu.”
7/28/2018
Maaf
mungkin aku harus pergi,
mungkin kamu harus pergi,
mungkin kita harus sama-sama pergi..
lelah sudah pada akhirnya,
kita berdua menjadi tuli.
tak mendengar apa kata mereka,
berjalan terus tanpa tau kemana.
aku tau apa yang kau tuju,
kutemukan rumah dalam dirimu.
aku tau kau tak pernah menahanku,
tapi aku tau bagaimana kau membutuhkanku.
sampai tiba masa,
kala kita sama-sama tau,
hidup tidak hanya tentang rasa,
pun asa yang mungkin membuat kecewa.
tak ada yang aku percaya,
tak ada yang bisa membesarkan asa.
mereka tak tau siapa kita,
mereka tak tau bagaimana menjadi kita.
kalau kau tanya seberapa sulit?
rasanya sama persis seperti milikmu.
kalau tanya seberapa takut?
besarnya sama persis seperti milikmu.
tapi kita harus.
tapi kita hanya tahu kata ‘harus’.
3/11/2018
Hi, Myself.
Ada hal yang membuatku kembali membuka tulisan lamaku hari ini. Aku melihat kembali apa-apa saja yang pernah kukutip dan kutuliskan di media sosial dalam 140 karakter dulu. Aku melihat kembali lagu-lagu apa saja yang pernah kudengarkan dulu. Aku mengingat kembali tempat apa yang pernah dan seringkali kukunjungi dulu.
Dulu.
Menerangkan kejadian di waktu lampau.
Menyedihkan. Seluruh arsipku hilang. Komputer portable-ku rusak bersama banyak cerita di dalamnya. Ya. Ceritanya di dalamnya juga rusak. Memudar dan mulai hilang.
Tigapagi. Mendengarkannya selalu berhasil membawaku kembali kesana. Ke ruangan kecil yang penuh barang, lengkap dengan pengharum ruangan yang tidak berubah sejak pertama kali menginjakkan kaki di sana. Ruangan yang tidak pernah benar-benar kehilangan cahaya. Ruangan dengan lampu natal berwarna kuning. Ruangan yang ku biarkan sayup-sayup lagu terdengar sepanjang malam hingga terlelap. Ruangan yang terkadang ku buat sesak dengan adanya seseorang. Ruangan yang menjelma menjadi tempat senyaman rahim ibu dengan Roekmana's Repertoire terdengar tanpa jeda. Hampir lima tahun lamanya.
Ada hal-hal yang benar-benar aku rindukan. Aku rindu nikmatnya berjalan kaki. Berjalan kaki selalu menyenangkan kala itu. Aku ingat sekali bagaimana wanginya tanaman tertiup angin. Aku ingat sekali bagaimana teduhnya cahaya dibalik pepohonan. Aku rindu banyak waktu yang kuhabiskan sendiri. Aku rindu sekali bagaimana nikmatnya menulis, mendengarkan apa yang ingin diriku sampaikan. Memberikan cukup waktu untuk mengenali diriku lebih dalam. Membiarkan diriku menangisi hal-hal melelahkan dalam hidupnya, membiarkan diriku bangga atas apa yang sudah ia kerjakan. Aku rindu nikmatnya mengucapkan terima kasih kepada diriku sendiri. Aku ingat sekali rasanya mendapatkan sesuatu lalu terasa seperti kebahagiaan mengalir dalam darah. Sampai tanpa sadar aku tersenyum. Aku membiarkan diriku letih untuk dirinya sendiri. Aku juga membiarkan ia merasakan hasil dari letihnya sendiri. Aku yang seringkali sulit tertidur karena tidak sabar menunggu hari esok, aku yang seringkali sulit tertidur karena mengingat terus hal yang terjadi sepanjang hari.
Menyedihkan. Mendapati diriku tidak lagi memberikan ruang untuk dirinya berbicara. Mendapati diriku membungkam dirinya dari rasa-rasa yang tidak mengenakkan. Mendapati diriku membatasi dirinya merasakan bahagia yang sangat amat. Mendapati diriku membuat dirinya tidak lagi merasakan letih. Mendapati diriku memaksa dirinya untuk tidak mempedulikan hal yang menurutnya tidak pantas dipedulikan.
Aku semakin kuat atau justru semakin lemah?
Dulu aku mau merasakan bagaimana letih, tidak seperti sekarang yang tak kenal letih karena membuang kata tersebut dari pikiranku. Dulu aku berani untuk peduli pada hal yang menganggapku tak penting, tidak seperti sekarang yang acuh bahkan pada hal yang menurutku tak pantas untuk mendapatkan sedikit waktuku. Dulu aku berani membiarkan diriku meletakkan kebahagiaan pada hal yang bersifat sementara, tidak seperti sekarang yang menciptakan dan mengunci kebahagiaan di atas kakiku sendiri.
Aku semakin berani atau justru semakin takut?
Hari ini aku ingin mendengarkan diriku. Hari ini aku milik diriku. Hari ini aku mau diriku bercerita banyak tentang dirinya. Hari ini aku berterima kasih kepada seseorang yang tanpa sadar mengingatkan bahwa aku sudah terlalu jauh.
Aku hanya ingin menjadi aku lagi.
'People are more likely to use sleep as a temporary cure for the tiredness caused by depression' - R.H. Sin
Subscribe to:
Posts (Atom)