3/11/2018

Hi, Myself.

Ada hal yang membuatku kembali membuka tulisan lamaku hari ini. Aku melihat kembali apa-apa saja yang pernah kukutip dan kutuliskan di media sosial dalam 140 karakter dulu. Aku melihat kembali lagu-lagu apa saja yang pernah kudengarkan dulu. Aku mengingat kembali tempat apa yang pernah dan seringkali kukunjungi dulu.

Dulu.
Menerangkan kejadian di waktu lampau.

Menyedihkan. Seluruh arsipku hilang. Komputer portable-ku rusak bersama banyak cerita di dalamnya. Ya. Ceritanya di dalamnya juga rusak. Memudar dan mulai hilang.

Tigapagi. Mendengarkannya selalu berhasil membawaku kembali kesana. Ke ruangan kecil yang penuh barang, lengkap dengan pengharum ruangan yang tidak berubah sejak pertama kali menginjakkan kaki di sana. Ruangan yang tidak pernah benar-benar kehilangan cahaya. Ruangan dengan lampu natal berwarna kuning. Ruangan yang ku biarkan sayup-sayup lagu terdengar sepanjang malam hingga terlelap. Ruangan yang terkadang ku buat sesak dengan adanya seseorang. Ruangan yang menjelma menjadi tempat senyaman rahim ibu dengan Roekmana's Repertoire terdengar tanpa jeda. Hampir lima tahun lamanya.

Ada hal-hal yang benar-benar aku rindukan. Aku rindu nikmatnya berjalan kaki. Berjalan kaki selalu menyenangkan kala itu. Aku ingat sekali bagaimana wanginya tanaman tertiup angin. Aku ingat sekali bagaimana teduhnya cahaya dibalik pepohonan. Aku rindu banyak waktu yang kuhabiskan sendiri. Aku rindu sekali bagaimana nikmatnya menulis, mendengarkan apa yang ingin diriku sampaikan. Memberikan cukup waktu untuk mengenali diriku lebih dalam. Membiarkan diriku menangisi hal-hal melelahkan dalam hidupnya, membiarkan diriku bangga atas apa yang sudah ia kerjakan. Aku rindu nikmatnya mengucapkan terima kasih kepada diriku sendiri. Aku ingat sekali rasanya mendapatkan sesuatu lalu terasa seperti kebahagiaan mengalir dalam darah. Sampai tanpa sadar aku tersenyum. Aku membiarkan diriku letih untuk dirinya sendiri. Aku juga membiarkan ia merasakan hasil dari letihnya sendiri. Aku yang seringkali sulit tertidur karena tidak sabar menunggu hari esok, aku yang seringkali sulit tertidur karena mengingat terus hal yang terjadi sepanjang hari.

Menyedihkan. Mendapati diriku tidak lagi memberikan ruang untuk dirinya berbicara. Mendapati diriku membungkam dirinya dari rasa-rasa yang tidak mengenakkan. Mendapati diriku membatasi dirinya merasakan bahagia yang sangat amat. Mendapati diriku membuat dirinya tidak lagi merasakan letih. Mendapati diriku memaksa dirinya untuk tidak mempedulikan hal yang menurutnya tidak pantas dipedulikan. 

Aku semakin kuat atau justru semakin lemah?

Dulu aku mau merasakan bagaimana letih, tidak seperti sekarang yang tak kenal letih karena membuang kata tersebut dari pikiranku. Dulu aku berani untuk peduli pada hal yang menganggapku tak penting, tidak seperti sekarang yang acuh bahkan pada hal yang menurutku tak pantas untuk mendapatkan sedikit waktuku. Dulu aku berani membiarkan diriku meletakkan kebahagiaan pada hal yang bersifat sementara, tidak seperti sekarang yang menciptakan dan mengunci kebahagiaan di atas kakiku sendiri. 

Aku semakin berani atau justru semakin takut?

Hari ini aku ingin mendengarkan diriku. Hari ini aku milik diriku. Hari ini aku mau diriku bercerita banyak tentang dirinya. Hari ini aku berterima kasih kepada seseorang yang tanpa sadar mengingatkan bahwa aku sudah terlalu jauh.

Aku hanya ingin menjadi aku lagi.


'People are more likely to use sleep as a temporary cure for the tiredness caused by depression' - R.H. Sin