“Mengapa kau terlalu takut untuk melihat keindahan lebih dalam?”
“Aku tidak suka gelap. Aku benci klimaks”.
Sore ini turun hujan. Tidak gemuk, tapi ramai. Dan langit
sepertinya sedang bahagia. Warnanya kuning terang. Padahal sudah pukul setengah
tujuh sore. Tetap pada posisinya sejak tiga jam yang lalu, si gadis duduk diam
memandang rumput dari depan teras. Ia memilih untuk berhimpitan dengan
dinginnya lantai daripada meminta hangat dari sofa.
Kepalanya terasa berat. Banyak yang bergelayutan di atas
sana. Kalau saja bisa lebih tegak, mungkin mata itu tidak akan basah lagi. Ada
ngilu yang tidak bisa dijelaskan setiap kali pikiran itu terlintas. Baru
sebentar ia tahu, tapi entah mengapa mudah saja hal itu menariknya. Entah si
gadis yang terlalu lemah, atau memang tarikan itu terlalu kuat. Ia hanya tidak
ingin bercumbu lagi dengan gravitasi. Ia tidak suka dikelilingi gravitasi.
Ia melihat dengan jelas wajah itu. Wajah penuh kekhawatiran yang
ditujukan bukan kepadanya. Ia hanya bisa tersenyum. Ah tidak, ia harus bisa
tersenyum lebih tepatnya. Satu hal yang akhirnya kini dapat ia terima, that’s everybody fake, yeah, everybody (sometimes) have to be
fake..
