I'm amazed now :')
I'm so amazed :')
Thank you, yes you!
12/28/2012
12/11/2012
#memoritmo
Segalanya semakin jelas setelah bertemu kamu:
bahwa kelak, dalam perjalanan hidup saya, konflik yang saya alami sebagian
besar mungkin karena saya lupa mengingat bahwa saya adalah makhluk sosial yang
harus menjaga perasaan manusia-manusia di sekitar saya. Keluarga, sahabat, dan
orang terkasih.
11/27/2012
Maaf & Terimakasih
Melihat sebuah tweet teman saya tentang doa apa yang sering
ia panjatkan. Saya tetiba sadar, sudah lama sekali saya tidak berdoa dan
meminta dengan tulus dan khusyuk memohon, merendahkan diri saya di hadapan-Nya.
Saya bahkan lupa, apa doa yang terakhir kali saya panjatkan,
lebih tepatnya kapan terakhir kali saya memanjatkan doa.
Apa saya terlalu bahagia? Bahkan saya sampai lupa kapan
terakhir kali saya meminta. Atau saya sudah terlalu jauh berjalan sendiri tanpa
melibatkan Tuhan? Saya lupa bersyukur. Saya seperti mulai kehilangan rasa
peduli pada orang-orang disekitar saya. Saya lupa untuk bersyukur akan mereka.
Saya lupa tentang kehilangan.
Saya bahkan lupa mendoakan diri saya sendiri. Apa saya
sombong?
Tuhan, maaf, maaf, maaf. Tuhan, terimakasih, terimakasih,
terimakasih.
Tuhan, tolong ingatkan aku selalu bahwa Kau bahkan
memberikan apa yang tidak aku minta.
11/18/2012
Bagaimanapun, kita pasti akan selalu berlutut pada takdir dan gravitasi.
Kalau kamu lelah dan ingin menyerah, tarik tangan ini.
Biarkan aku berhenti juga. Aku tahu kamu tidak cukup jahat untuk membiarkanku
tetap berlari, sendirian, berfikir bahwa kau hanya rehat dan akan segera
menyejajarkan diri kembali.
Kalau ada orang lain yang berlari ke arahku atau ke arahmu,
biarkan mereka berlari pada lintasannya sendiri. Apakah pada akhirnya cabang
itu menjadi satu atau tidak, itu bukan lagi menjadi urusan kita. Kita hanya
harus menyelesaikan lintasan kita berdua. Entah bagaimana kita akan
menyelesaikannya, biarlah kita saja yang menentukan.
11/02/2012
Rest In Peace, Friend
This is the darkest day for Espatriat. Daimul Fikroh has passed away. i never be so close with him. but at least when i laugh he was laugh with me. when i bored in the middle of the meeting, he was bored with me.
proses yang sangat cepat dan tidak terduga itu tertulis dalam catatan seorang teman, Sulthon.
Untukmu yang telah pergi meninggalkan raganya, panggilan yang tak
seorang pun tahu kapan ia mampir tanpa pamrih mengajak pergi dari dunia
ini. Selamat jalan kawan, jiwamu tak pernah mati dan doa kami selalu
menyertaimu.
Senyum di jumat pagi ini tidak kusangka adalah
senyuman terakhirnya. Awalnya biasa saja, kita hanya bermain, bermain
futsal seperti minggu-minggu sebelumnya, untuk menghilangkan penat dari
ujian yang menggerayangi otak ini dan membuat lelah.
Semuanya
itu dimulai pada jam 08.00 pagi di lapangan YPKP, lapangan yang kini
menjadi sebuah memoriam bagi kami tentang seseorang. Daimul
Kami
bertigabelas jika saya tidak salah hitung, seluruhnya bermain bergantian
lima lawan lima, selamat bagi yang jago dan bisa menggolkan dua kali
kegawang musuhnya dan dia akan tetap bermain. Jam menunjukkan pukul
08.30 ketika dia masih saja menjadi penjaga gawang walau berbeda tim,
kami bermain seperti biasa, ya seperti biasa, tidak ada tanda-tanda
pucat dan sesuatu yang menjelaskan alasan kenapa seseorang bisa
dikatakan tidak sehat, hingga tiba saat seorang memanggilnya untuk
diganti oleh yang lain, langkahnya ke luar lapangan itu menjadi
langkahnya yang terakhir....
Kakiknya sudah tak kuasa menahan
bobot badan yang tidak terkontrol, sempoyongan, benturan cukup keras
mengenai wajah depan ia pun jatuh ke depan. Geraknya seperti seseorang
yang tersandung batu, atau anak kecil yang baru belajar berjalan dan
jatuh.
Suasana panik, mendadak kami bersama membopongnya ke arah
luar lapangan memikirkan klinik rumah sakit, atau yang lainnya, tempat
apapun yang bisa menolong teman kami yang sedang berada diantara hidup
dan mati.
Dua menit berselang ketika ada seseorang pengunjung
lapangan tersebut menawarkan mobilnya untuk siap membawa teman kami, tak
terpikirkan sebuah tempat pun yang bisa saya tuju selain rumah sakit
terdekat dari situ, RS Santo Yusuf, karena sudah habis kesabaran saya
dengan lagak penjaga parkir yang tidak tahu arti kata “darurat”.
Setelah
membaringkannya di tengah kursi mobil terlentang, semua sirkulasi udara
mobil dibuka, semoga angin ini angin baik, sabarlah kawan bertahanlah,
kita akan berusaha untuk mencari bantuan ... kataku dalam hati
Double
lampu sen mobil saya tekan dengan gemetar, alunan tangan tak karuan
keluar dari jendela untuk memberhentikan mobil yang lalu lalang
kulakukan, saya hanya ingin dunia ini berhenti sesaat selain mobil ini.
Berhentilah !!!
Lima menit berselang, setelah kami bertiga sampai
di RS Santo Yusuf, UGD UGD !!! PA DARURAT !!! lima satpam bergegas
mencarikan pendorong khusus dan mengeluarkannya dari mobil, bergegas
sampai ke dalam ruang, dengan nafas yang kembang kempis mencari siapapun
didalam ruang itu,
Dok, tolong teman kami mendadak pingsan
ketika bermain futsal, dia main sekitar setengah jam, lalu sempoyongan
dan jatuh, mulutnya mengeluarkan busa. Berbagai penjelasan kulontarkan
untuk mencoba membantu sang dokter untuk mengambil sikap, sekarang kita
serahkan padamu dok, sebagai penyambung takdir-Nya.
Secepatnya
ruang operasi dibuka, alat kejut dan kabel yang terhubung di dadanya,
disamping petugas rumah sakit menanyakan pertanyaan-pertanyaan Anda
siapa? Saya temannya, keluarganya ada? Nomor telp yang bisa dihubungi?
... Saya pun berdiri disampingnya hanya memandang dan berharap dengan
segenap doa, tapi itu hanya beberapa menit saja, operasi pun selesai
dan dengan hempaan nafas dan tatapan yang tajam.
Maaf, teman
anda sudah tidak ada ... ini seperti kasus alm adji masaid, ini serangan
jantung mendadak. Seringkali terjadi ketika olahraga.
Aku pun
terdiam .... dengan kucuran air mata tak percaya, aku hanya ingin
menyahadatkanmu untuk terakhir kawan, berdiri disamping raganya yang tak
berjiwa sekarang.
Tak lama berselang, teman-teman yang tadi
bermain bersama sampai ke RS, Insan yang pertama, yang sibuk mencarikan
nomor telepon keluarganya dan bantuan teman yang lain, hingga kakaknya
datang untuk memastikan keresahan, sebuah realitas yang harus diterima
bahwa adiknya telah wafat.
Lalu ibunya pun datang dengan mencoba
untuk bersabar dan ikhlas, mengingat senyum anaknya yang telah membiru
dan menjadi kaku. Terisak tasik yang mendalam sambil mengelus ngelus
terus kakiknya, aku pun ingin memeluknya, andaikan aku perempuan.
“Padahal
tanggal dua empat kemarin dia baru saja berulang tahun”, dari
percakapan saya dengan sang ibu, almarhum adalah sosok yang sholeh, baik
dan selalu ceria. Kenapa kamu tidak pamit nak ...
Akhirnya
sambil menunggu jemputan saudaranya, kami pun berdoa untuk terakhir
kalinya di ruang jenazah, menyalami tangannya dan mencoba membesarkan
hati sang ibu yang telah membesarkan teman kami ini, maaf bu ini mungkin
takdir tapi kami telanjur larut dalam ikhtiarnya.
Sebagian
tinggal dan menemani sang ibu, dan sebagian dari kami pergi ke masjid
untuk minta kepada imam untuk disolat ghoibkan, maaf teman hanya doa
yang bisa kami lakukan untuk sekarang. Mungkin jiwamu telah tiada tapi
namamu akan selalu menjadi bagian dari memoriam hidup kami sekalian,
juga sebagai pengingat ........ bahwa hidup ini sangat rapuh.
Kamu orang baik, Mul. Kamu teman yang sangat baik. Kamu pasti dapat tempat yang terbaik! Selamat jalan Mul, semoga kita berkumpul lagi dalam kehidupan selanjutnya :)
10/28/2012
Lalu, apa?
Menjejal-jejal meminta realita. Apa kamu lelah berada di
dalam sini? Terlalu jauh dari otak. Mungkin karena itu aku tidak menemukanmu
diatas sana. Kau menjejal-jejal seakan merasa sempit berada disini.
Kau terlalu besar untuk keluar bersama kata. Aku tercekat.
Mungkin tenggorokan ini terlalu banyak sekat.
Tujuh puluh satu ribu kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia
tidak berhasil mengeluarkanmu darisana.
Entah apa namanya yang terlihat jelas justru tanpa mata.
Entah apa namanya yang terdengar jelas saat ku tutup telinga. Entah apa namanya
yang menyentuh dengan menyeluruh. Kau, entah apa, entah apa.
Brain & Heart
Brain: “Heart, i can’t reach you. Tell me your YM, i wanna talk to you”.
Heart : “Sorry, i’m busy preparing myself for him. Call me later”
Brain : “It’s about him, i had a bad feeling”
Heart : “Pardon me, feeling? Hey i owned that! Where’s your logic anyway?”
Brain : “I can’t reach you! if you keep not listen to me, i’m gonna dissapear. Let’s talk”
Heart : “I’m BUSY. LEAVE ME ALONE”
—————————————-
—————————————-
Heart : “Brain….. i’m not busy right now. This place is still empty. He’s not coming. Are you there?”
Heart in the head : “Yes, i am here”
taken from: http://rahneputri.com/post/12780172199/brain-heart#disqus_thread
10/27/2012
Because someday is
infinity.
The effort you gave to me is going too much. I scared, I’m
just scared everyday. Honestly I’m happy, so happy. But darling, like our
conversation, too much effort too much expectation. We have to go back to the
earth, standing here, hugging gravitation. I was flying too high, and I’m
scared to falling down. I’m in love with you everyday, but I hate for every
single time I remember about the end. If I could having you….
10/21/2012
Kamu, berjanjilah untuk tidak akan berhenti bahagia.
Hari ini kita ucap banyak syukur atas kebersamaan yang Tuhan
berikan. Berjanjilah bahwa kau akan terus bersyukur untuk setiap yang Tuhan
berikan.
Hari ini kita dapat tertawa untuk setiap cerita yang tak
bermakna. Berjanjilah bahwa kau juga akan tetap tertawa untuk cerita yang butuh
air mata.
Hari ini kita tersenyum saat kembali berhadapan dengan masa
lalu. Berjanjilah bahwa kau akan tetap tersenyum bila hari ini menjadi masa
lalu.
Hari ini kita berjalan bergenggaman tangan. Berjanjilah kau
akan tetap menggenggam erat siapapun yang ada disampingmu.
Hari ini kita berpelukan dan tenggelam dalam nyaman.
Berjanjilah bahwa kau akan tetap menjadikan nyaman siapapun yang sedang dalam
pelukanmu.
Hari ini kita saling menunduk malu menyembunyikan senyum.
Berjanjilah bahwa kau hanya akan kembali menunduk untuk sebuah rasa malu.
Hari ini kita mampu menghapus benci dengan kecupan.
Berjanjilah bahwa kau akan selalu menyelesaikannya dengan cara yang sama.
Hari ini kita lukis banyak rencana dengan tangan dan
mewarnainya dengan angan. Berjanjilah bahwa kau akan tetap meneruskan itu walau harus ada yang berhenti.
Hari ini kau berikan aku banyak sekali rasa sayang. Berjanjilah
untuk tidak akan membiarkan benci memakan bahagiamu kelak.
kamu jangan pernah berhenti bahagia ya :*
"Tuhan jarang berdiri sendiri, Ia membawa institusi agama, orang tua,
keluarga besar, adat istiadat, bahkan aturan pemerintah Indonesia yang
melarang pernikahan beda agama."
"Beranikah kita untuk mencantumkan tanda tanya di
ujung semua yang kita yakini dan percayai? Dan mencantumkan tanda titik
hanya jika kita telah mengalaminya langsung, membuktikannya sendiri;
saat perjalanan kita dari mempercayai akhirnya tiba di mengetahui."
taken from: http://dee-idea.blogspot.com/2009/05/keyakinan-pada-tuhan-yang-esa-adalah.html
10/13/2012
That's more than risk aversion.
“Bisakah aku tau kapan kau akan pergi?”
“Tuhan selalu punya cara yang elegan untuk setiap hal yang
ingin Ia tunjukkan”.
Sudah
sedari tadi si gadis menutup matanya, tapi entah mengapa kepalanya
terus-menerus menyusuri lorong-lorong tanpa ujung itu. Penyesalan tak pernah
berhenti mengiringi setiap jengkal yang ia lewatkan. Ada banyak kata
‘seharusnya’ yang menghalangi tepat di depan pintu yang harus ia buka.
‘seharusnya’ seperti gravitasi. Selalu menang. Terlalu kuat.
Dingin
sudah semakin lihai menembus celah-celah jendela. Ia seolah tak lagi mengenal
iba membagi beku di malam itu. Ia mencoba menembus selimut dan kaus kaki yang
dipakai si gadis.
Flu.
Lagi-lagi flu yang bersedia memeluk si gadis dengan sangat erat. Hidungnya
memerah. Samar. Entah akibat pelukan flu yang terlalu erat atau itu adalah
pelangi setelah hujan deras di ujung kedua matanya.
Sesungguhnya
si gadis tidak benar-benar bodoh ketika ia tetap menikmati kebodohan itu dengan
penuh kesadaran bahwa hal itu bodoh. That’s what called lost aversion….
10/05/2012
WANDERLUST
I’ve tried to break my own comfort zone. Do you know? That’s
absofuckinlutely need a lot of your strength. Saya baru berani belajar untuk
itu sekarang. Terlambat. Ya, memang. Tapi saya luar biasa banyak tertampar,
berfikir, dan sadar bahwa pada dasarnya kita memang harus melewati proses yang
sangat panjang. Akan sangat berbahaya ketika kita bisa langsung berdiri tanpa
harus merangkak terlebih dahulu. Banyak peluh yang mungkin harus saya rasakan,
atau bahkan ini belum cukup, sampai saya paham bahwa “everything happens for a
reason” itu tidak hanya sekedar teori. Kita harus tau rasanya terinjak agar
berhati-hati supaya tidak menginjak orang lain.
Life is all about serving, guys. Pada akhirnya saya sadar,
kita harus bersungguh-sungguh melayani dalam hidup ini. Sejujurnya, melayani
itu sulit. Terlebih kalau yang kau layani adalah seorang manusia yang punya
bermilyar-milyar syaraf dan keinginan yang tak terhingga. Tapi itulah proses,
saya harus merangkak, melayani, sebelum bisa berdiri. Bahkan ketika kamu sudah
merasa dilayani, sesungguhnya kamu tetap melayani.
“Jangan pernah merasa
kamu adalah satu-satunya. Di luar sana banyak orang yang bisa menggantikan
posisi kamu sekarang.”
Kira-kira seperti itulah salah satu hal yang membekas dari
meeting pertama saya dengan seseorang yang sangat menginspirasi, saya kagumi,
dan saya benar-benar raising hat
padanya, Diantra Irawan, kemarin malam.
Benar saja, amat bodoh ketika kita merasa adalah
satu-satunya. Satu-satunya hanya dapat dimiliki oleh Tuhan. Tidak ada satu
orang pun yang mau pindah dari posisi yang sudah dia duduki sekarang. Yang ada
hanya orang yang mau meraih posisi yg sedang diduduki oleh orang lain. Maka, sedikit
saja kita lengah akan sangat mudah posisi ini diduduki oleh orang lain. Hidup
memang soal perjuangan. Kalau ingin berhenti berjuang, ya berhentilah untuk
hidup.
Tentang perjuangan, setiap orang punya perjuangannya
masing-masing. Anak sekolah yang berjuang untuk lulus, pekerja yang berjuang
untuk uang, pujangga yang berjuang untuk cinta, ya, semua orang mempunyai jalan
perjuangan yang berbeda-beda. Sesuai tujuan hidupnya.
Berjalanlah terus, tetap melihat ke depan. Lakukan apapun
yang ingin dilakukan, selama hal itu memiliki alasan. Orang akan selalu nyinyir
bukan? Ya, selalu. But like Phil Collins said, “if you feel it, just do it!” Tapi
jangan pernah sekalipun melukai orang lain.
And as usual God,
tetapkanlah ketenangan dan keberkahan dalam setiap langkah saya, aamiinnn :)
9/09/2012
Kami Kuli Foto
Kejadian ini bermula dari kesalahan mas-mas pas photo yang
selalu gagal bikin muka kita kobe. Alhasil gaada satupun dari kita yang punya
pas photo yang ga keliatan watir banget mukanya. Jadi serba susah tiap mau
apply ini-itu harus foto dulu atau edit foto ini-itu crop ini-itu juga. Kita
bertiga (saya, nana, eki) memutuskan untuk mengakhiri penderitaan ini (halah
sukasuka lu gela). Udah lama juga ga nguli foto gatel liat kamera nganggur. Ya
lumayanlah sekarang kita jadi punya pas photo. Ga kayak pas photo sebelumnya,
ada yang putih banget kaya mayat, kaku banget kaya kanebo kering, merah banget
bibirnya kaya makan bayi, dll. Hilang sudah penderitaan itu!
Nah sialnya, cahaya lagi bersahabat banget. Insting kuli
foto kita langsung aja jadi liar. Bingung cari model cuma berlangsung 1 detik!
Kebanyakan dapet job fotografi bikin kita jadi minim koleksi muka sendiri. Jadi
aja kita double job. Kita jadi berempat, ditambah Achy.
cheerio!
9/07/2012
RUN
Saya seringkali kecewa ketika mendapati bahwa saya baru saja mengeluh.
Pada dasarnya saya mempunyai keyakinan bahwa mengeluh itu
berkolerasi sangat besar dengan ketidakbahagiaan.
Menghentikan diri untuk tidak mengeluh sama sekali itu
sulit.
Mengeluh sudah seperti kebiasaan yang kadang saya lakukan
tanpa sadar.
Sekarang saya sudah menemukan cara untuk mencegah saya
mengeluh, yaitu berlari.
Ya, berlari.
Mungkin saya tidak lagi butuh mengeluh kalau saya punya
banyak waktu untuk berlari.
Berlari itu tenang.
Berlari itu mencegah saya untuk berbicara.
Berlari itu mencuci paru-paru dan pikiran saya.
Berlari itu tidak sekedar olah raga buat saya.
Kadang ketika saya merasa terlalu lelah, saya justru butuh
untuk berlari.
Pada ¼ lap pikiran saya mulai liar menjalar.
Menambah kecepatan ketika saya ingin marah, menguranginya
ketika bahagia berlebihan.
Saya tertawa, menangis, marah, tanpa suara.
Berlari justru memberi efek yang lebih baik bagi perasaan
dan pikiran saya, dibandingkan tubuh.
Berlari adalah teman bercerita.
Kadang ketika saya bercerita terlalu sering tentang sesuatu
hal, saya menjadi semakin tenggelam dalam cerita itu.
Bisa jadi saya menjadi terbang terlalu tinggi, atau jatuh
terlalu rendah.
Saya butuh berlari untuk mengembalikan diri ke posisi semula,
posisi yang semestinya.
Berlari adalah cara saya untuk tetap seimbang.
Berlari adalah cara saya untuk tetap berpijak.
9/06/2012
Ini pertama kalinya aku melihatmu lemah
Ini pertama kalinya aku melihatmu nyaris menyerah
Selemah itukah kamu sekarang?
Sejauh itukah kamu dengan Tuhan?
Sampai kau tak lagi percaya bahwa Ia tetap menjadi Sang Maha
Pembolak-balik hati.
Apa kamu lupa? Kita ini manusia.
Tugas kita hanya berusaha.
Tuhan itu butuh diyakinkan, butuh dibuktikan, bahwa kita
pantas atas segala sesuatu yang kita harapkan.
Segala hal yang kita dapatkan hari ini, aku percaya,
itu mungkin bukan yang terbaik, tapi itu adalah yang terpantas untuk kita.
Kalau pun pada akhirnya garis yang kau buat tidak beririsan
dengan garis Tuhan, itulah yang pantas untukmu.
Itu belum tentu buruk untukmu, bisa jadi itu lebih baik.
Kamu bukan Tuhan, jangan melebihi kuasa Tuhan untuk menghakimi takdir untukmu.
Kamu bukan Tuhan, jangan melebihi kuasa Tuhan untuk menghakimi takdir untukmu.
Ketika kamu tidak yakin dirimu bisa melakukannya, lalu
bagaimana kau akan meyakinkan Tuhan?
Bukankah kita sepakat untuk terus berusaha meyakinkan Tuhan?
Bukankah kita sepakat untuk terus sejajar?
Kalau aku berlari, maka kamu juga harus berlari!
Aku benci untuk tau bahwa salah satu dari kita mendahului yg
lainnya.
Aku tidak mau mendapati bahwa salah satu dari kita berhasil
memantaskan diri sedang yang lain tidak.
Aku hanya mau kita sejajar!
9/03/2012
Kalau Bandung adalah Manusia
Ia seseorang yang tenang
Ia banyak tersenyum
Ia tidak banyak bicara
Ia sedikit manja
Ia penuh dengan kejutan
Ia suka seni
Ia hobi menulis, melukis, dan bermusik
Ia pasti mengerti banyak hal
Ia berpikiran terbuka
Ia pendengar yang baik
Ia perasa
Ia berprinsip kuat
Ia tak suka berpura-pura
Ia cuek
Ia menghargai orang lain
Ia penuh kehangatan
Ia penuh kenyamanan
Ia ramah
Ia sangat menyenangkan
Ia pasti saya jadikan pacar :)
8/31/2012
8/30/2012
“There are three aspects of love: fall in love, desire, and sketch a future. We necessarily feel these at the same time. But in fact, we can feel it with the different person. Falling in love with the first person, having desire with the second person, and sketching future with the third person.” –HitamPutih, Trans7
8/22/2012
When you ask me to go to sleep early, don’t you wanna spend more times with me?

“Beginikah cara komunikasi yang aman bagi kita? Mencegah
adanya saling ketergantungan. Bahkan ketika sesungguhnya hal itu sudah ada,
kita tidak boleh menambahkannya”
“Setiap jalan mempunyai tikungannya masing-masing. Mungkin
di salah satu tikungan kita akan bertemu lagi.”
Lalu hujan turun deras sekali. Si gadis kecewa. Dia sungguh
sedang menunggu senja. Dia lupa kapan terakhir kali senja menyapanya dengan
ramah. Belakangan ini hujan seringkali turun di sore hari. Tapi apa mau dikata,
tidak ada hal yang dapat iya lakukan bukan? seperti halnya saat ia hanya dapat
membeku melihat seseorang pergi.
Segelas teh tarik hangat ia minum sedikit demi sedikit. secangkir minuman itu menjelma menjadi teman sejati baginya yang selalu mendengarkan keluh kesah hati.
Si gadis takut gelap. Ia tak pernah menunggu senja tanpa cahaya. Ia tak ingin gelap mendominasi
lebih banyak lagi aspek di kehidupannya. Terlebih ia sadar si pemompa udara
kini sudah tak lagi terang terintimidasi oleh benda kecil yang setiap hari ia
isap.
Ia sudah sangat rindu senja. Senja selalu mendengarkan,
tanpa menghakimi. Dia yang tak selalu ingin tahu. Dan mengerti hanya dalam
bisu.
Si gadis merubah posisi duduknya menjadi setengah tidur. Diam-diam
dia kembali ke memori tujuh tahun lalu. Ia tutup matanya. Sedikit demi sedikit
tubuhnya mulai terasa lemah.
Lalu ia tenggelam dalam angan….
8/20/2012
Pride and Prejudice
Its never get enough to watch this movie! I adore you Mr.
Darcy! Mr. Darcy has his own way to show his love. Unique. And of course sweet.
And deep. And elegant. Aaaaaah there is no enough words to describe him! full of surprising! makes me remember about someone hihihi
8/18/2012
EID MUBARAK 1433 H
Ikhlas.
Sepertinya itu salah satu tujuan Tuhan menciptakan hari raya
ini.
Entah mengapa ikhlas memaafkan itu sulit menurut saya.
Seperti niat, ini bukan hanya perkara sebelum, tapi juga
pada saat dan setelahnya.
Bagaimana kita bisa memaafkan sebelum orang lain minta maaf,
menjaga maaf itu ketika orang itu mengingatkan kembali dengan minta maaf, dan
tetap menjaganya walau dihari yang akan datang luka itu terbuka lagi.
ikhlas itu ikhlas tanpa harus berkata ikhlas
itu sulit. Walau sulit bukan berarti tak mungkin.
Mungkin bisa dihitung jari berapakali saya benar-benar
mengikhlaskan sesuatu.
Karena ketika kita tidak lagi memikirkan keikhlasan, disitulah justru diri kita sedang mengikhlaskan.
Masalahnya buat saya itu butuh ruang yang cukup besar
(bahkan saya tak memiliki hati yang cukup luas) dan waktu yang cukup lama.
Sebenarnya bukan waktu yang menyembuhkan semuanya, tapi saya
nantinya sudah mulai bisa menerima.
Lagi-lagi ini tentang apakah waktu datang terlambat atau
tidak.
Saya khawatir apabila waktu datang terlambat maka saya,
sebagai manusia yg jauh dari sempurna, sudah tidak mampu lagi memberikan maaf
dengan ikhlas.
Tapi saya tidak boleh melebihi Tuhan.
Saya tidak bisa memilih siapa yang mau saya maafkan.
Saya berkewajiban untuk selalu belajar ikhlas.
Yes, I have to be kind :)
HAPPY EID MUBARAK 1433 H, MY FABULOUS READERS ;)
gladioheras
8/17/2012
Diingkari itu sakit. Iya. Tapi itu sudah biasa. Hukum
alam.
Sayangnya, yang kali ini terlalu sakit buat saya. Terlalu sakit
ketika hal itu dilakukan oleh orang yang saya menaruh percaya sepenuhnya. Oleh orang
yang saya yakin dia sangat menghargai komitmen. Oleh orang yang saya lebih
yakin lagi tidak akan menelan ludahnya sendiri.
Saya kecewa? Iya. Sangat.
Saya marah? Iya. Pada diri saya sendiri.
Saya benci? Tidak. Saya tidak cukup kuat untuk itu.
Saya memaafkan? Iya. Selalu begitu untuk dia.
Saya melupakan? Tidak sama sekali.
Saya berharap? Tidak lagi.
Saya ikhlas? Belum.
Saya menangis? Iya.
Saya terluka? Iya.
Saya bertanya? Terus-menerus. Pada si lemah, telinga.
Saya lelah? Belum. Mungkin akan.
Dia berbeda? Saya pikir. Dulu.
Dia sempurna? Tadinya.
Dia terpercaya? Tidak tau.
Dia jahat? Tidak. Saya bodoh.
Dia berharga? .
Dia berjanji? Iya.
Dia menepati? Semoga.
Dia menghindar? Memudar.
8/16/2012
8/15/2012
Hukuman yang terberat
-->
“Apa yang harus dilakukan pulpen pada kertas yang tidak
ingin lagi ia menorehkan tinta diatasnya? Mengganti tinta? Atau mengganti ujung
pena?”
“Mengganti kertas atau berhenti menuliskan apapun.”
Lalu seorang lelaki yang entah sudah berapa lama berjuang
untuk mendapatkan keinginannya. Kembali utuh seperti sediakala.
Entah sudah sejauh apa usaha yang sebenarnya ia lakukan.
Entah berapa banyak pengorbanan yang tidak sedikitpun ditengok. Tapi dalam
dimensi seorang gadis semuanya biasa saja. Cenderung membosankan. Tanpa jaminan
semua hal akan menjadi lebih baik bagi mereka, lelaki dan pasangannya.
Si lelaki berjalan cenderung berlari. (mantan) pasangannya
selangkah maju, dua langkah mundur. Si lelaki terus bertahan dan bertahan tanpa
usaha mempertahankan. Bagi si gadis itu tidak lebih dari nihil.
Lelaki itu seperti belum mampu membedakan ‘rasa’ dan
‘ambisi’. Dia tak sadar, lawan dari kasih sayang bukanlah lagi soal kebencian,
tapi ketidakpedulian. Diacuhkan adalah hukuman yang terberat. Bagaimana bisa
seorang manusia yang lahir ke bumi, dengan tangisan yang menyita perhatian,
kehadirannya dinafikan seperti debu.
Lelaki itu mengabaikan dunia yang sebenarnya luas, hanya
karena ia terlalu menyukai aroma kasurnya. Walau bahkan seberapapun ia hias
kasur itu, dia hanya bisa membawanya untuk terus tidur. Tak ada yang dapat ia
temui disana selain semu. Dan sesuatu yang semu itu dapat dipastikan akan cepat
pudar. Seindah apapun yang ia tawarkan.
Mungkin saja hidup itu butuh rehat
sejenak. Rehat dari semuanya, berjuang maupun diperjuangkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)


















