12/16/2018

Self asking

Kau tahu seberapa keras usaha yang sudah kulakukan? Tentu tidak.

Beberapa waktu yang lalu aku bahkan belum menjadi aku yang kau kenal hari ini.
Aku tidak akan mengulang segala ceritanya, karena itu sama saja dengan memanggil semua rasa yang sudah susah payah kubuat menjadi biasa.

Di hari aku menyelesaikan segala yang tersisa, tepat di hari itu pula aku memutuskan untuk menjaga segala yang aku punya untukmu. Dua tiga kali mungkin aku masih kalah, tapi aku benci rasa bersalah. Aku tidak akan mengalah.

Ada sedikit ketakutan yang seringkali aku hindari, yaitu tentang segala pertanyaan di kepala, 'Apa yang buat aku yakin?'. Aku takut tidak bisa menjawabnya, lalu ragu tiba-tiba menang.

Aku ingat sekali kata seorang teman, tentang aku yang dianggapnya tidak menemukan seseorang yang bisa mengisi karena memang tidak pernah membuka diri. Lalu aku membukanya untuk kamu. Mempersilahkan kamu masuk lebih dalam walau harus bergantian menunggu ia pergi keluar dengan perlahan. Tidak masalah pikirku, toh aku pastikan kamu yang akan menjadi tuan rumah di akhir waktu. Ada banyak perbincangan yang akhirnya kamu buka. Aku justru terkesan dengan semakin banyaknya labirin yang kamu buat di dalam kepalamu. Beberapa kali sempat aku masih menjadi aku yang dulu kamu kenal. Tapi selalu kuingat lagi pesan temanku.

Suatu hari aku tidak bisa lagi menghindar dari ketakutan, seorang teman bertanya 'Apa yang buat aku yakin?'. Aku tersentak namun tetap mencoba terlihat tenang. Atau lebih tepatnya membuat diriku tenang. Aku ingat saat terakhir kita pergi untuk bersenang-senang, kamu dan aku memilih menonton film yang aku pilih walau aku tahu kamu tidak mengerti. Kamu tahu aku menyebut judul film itu berkali-kali dalam setiap pembicaraan kita baik dalam pesan teks maupun suara. Sampai kau kabulkan juga, mungkin kau mulai bosan mendengar judul film itu aku sebutkan. Tapi ada satu hal yang tidak pernah aku ceritakan kepada siapapun termasuk kamu, hari itu adalah hari dimana aku merasa kamu benar-benar orang yang tepat dan aku tidak akan pernah menyesal memilihmu. Bukan, bukan soal kamu yang rela menonton film yang tidak kau mengerti. Ini tentang aku yang selama setengah dari durasi film hanya melihat tanganmu menggenggam tanganku. Ini tentu bukan kali pertama kamu lakukan itu, tapi ini kali pertama dalam hidupku aku merasa tidak takut memilih dan mengambil keputusan.

Kembali ke pertanyaan yang diajukan temanku, aku menjawabnya dengan senyum. Lalu ku katakan bahwa aku menemukan apa yang aku butuhkan, tapi aku juga menemukan yang aku inginkan. Persetan kata orang bahwa lebih baik mengutamakan apa yang kita butuhkan daripada apa yang kita inginkan, toh aku menemukan keduanya pada dirimu. Pikiranku melayang pada pesan dari teman lainnya tentang memilih seseorang, 'Bayangkan dirimu dalam 10 tahun ke depan, pilihlah ia yang sekiranya kau butuhkan pada masa itu'. Tentu kau akan melihat dirimu yang berbeda dengan hari ini. Mungkin dimasa itu kau bukan lagi seseorang dengan ambisi seputar investasi. Mungkin dimasa itu kau tidak lagi butuh seseorang yang menceritakan tentang pergerakan bursa saham. Mungkin dimasa itu kau tidak lagi butuh orang yang berada pada tangga nada yang sama saat menyuarakan amarah. Mungkin dimasa itu kau hanya butuh teman. Teman yang selalu mendengarkan tanpa terus membenarkan.

Lalu mereka kembali bertanya, 'Bagaimana aku tahu tentang aku di masa yang akan datang?'. Aku juga bertanya mengenai hal itu, tapi aku tanyakan pada diriku sendiri. Aku dengarkan diriku. Aku temukan sisi mana yang sudah mulai meredup dan sisi mana yang cenderung menguat dariku. Lalu kubayangkan akan sekuat apa sisi itu 10 tahun ke depan, dan seberapa besar kecenderungan sisi lainnya menggantikan. Saat itulah aku tau apa yang aku inginkan saat itu dan apa yang aku butuhkan saat ini.

Sekarang aku percaya, find your equal, not your whole.