Sepanjang malam ia terjaga. Untuk pertama kalinya ia banyak
berkata-kata tanpa berfikir terlebih dahulu. Malam ini ia terlalu banyak
bercerita. Apa yang terucap tak lagi bisa ia tata.
“Sejak luka itu dimulai, ia sudah ada.”
Si gadis berfikir keras. Mungkin itulah sebabnya mengapa ia
bertahan terlalu keras. Walau tidak cukup yakin dengan apa yang baru saja ia
pikirkan. Ia takut untuk sendiri. Ia benar-benar takut untuk berjalan sendiri.
Karena ternyata ia tidak pernah sendiri.
Kalau memang benar karena itu, ia jahat.
Mungkin itulah mengapa ia tak pernah merasa cukup hangat.
Mungkin itulah mengapa ia tak pernah bisa menangis. Mungkin itulah mengapa ia
tak pernah banyak bercerita. Ia bertahan karena butuh sandaran. Ya, sandaran
yang bekerja sesuai takdirnya, untuk bersandar. Hanya itu,
Mungkin sekarang ia mulai kedinginan. Mungkin sekarang ia
mulai butuh jawaban. Mungkin sekarang ia mulai butuh tarikan. Mungkin ia mulai
lelah berjalan menuju sandaran itu.
Ia takut benar. Ia takut bahwa semua pikirannya adalah
benar.