"Saya hanya akan bercerita kepada Tuhan, berkata kepada yang berhak, dan diam kepada yang lainnya. Biarkan Tuhan yang melakukan seleksi, melalui bagaimana hati-hati mereka menilainya" -Nazril Irham
8/30/2012
“There are three aspects of love: fall in love, desire, and sketch a future. We necessarily feel these at the same time. But in fact, we can feel it with the different person. Falling in love with the first person, having desire with the second person, and sketching future with the third person.” –HitamPutih, Trans7
8/22/2012
When you ask me to go to sleep early, don’t you wanna spend more times with me?

“Beginikah cara komunikasi yang aman bagi kita? Mencegah
adanya saling ketergantungan. Bahkan ketika sesungguhnya hal itu sudah ada,
kita tidak boleh menambahkannya”
“Setiap jalan mempunyai tikungannya masing-masing. Mungkin
di salah satu tikungan kita akan bertemu lagi.”
Lalu hujan turun deras sekali. Si gadis kecewa. Dia sungguh
sedang menunggu senja. Dia lupa kapan terakhir kali senja menyapanya dengan
ramah. Belakangan ini hujan seringkali turun di sore hari. Tapi apa mau dikata,
tidak ada hal yang dapat iya lakukan bukan? seperti halnya saat ia hanya dapat
membeku melihat seseorang pergi.
Segelas teh tarik hangat ia minum sedikit demi sedikit. secangkir minuman itu menjelma menjadi teman sejati baginya yang selalu mendengarkan keluh kesah hati.
Si gadis takut gelap. Ia tak pernah menunggu senja tanpa cahaya. Ia tak ingin gelap mendominasi
lebih banyak lagi aspek di kehidupannya. Terlebih ia sadar si pemompa udara
kini sudah tak lagi terang terintimidasi oleh benda kecil yang setiap hari ia
isap.
Ia sudah sangat rindu senja. Senja selalu mendengarkan,
tanpa menghakimi. Dia yang tak selalu ingin tahu. Dan mengerti hanya dalam
bisu.
Si gadis merubah posisi duduknya menjadi setengah tidur. Diam-diam
dia kembali ke memori tujuh tahun lalu. Ia tutup matanya. Sedikit demi sedikit
tubuhnya mulai terasa lemah.
Lalu ia tenggelam dalam angan….
8/20/2012
Pride and Prejudice
Its never get enough to watch this movie! I adore you Mr.
Darcy! Mr. Darcy has his own way to show his love. Unique. And of course sweet.
And deep. And elegant. Aaaaaah there is no enough words to describe him! full of surprising! makes me remember about someone hihihi
8/18/2012
EID MUBARAK 1433 H
Ikhlas.
Sepertinya itu salah satu tujuan Tuhan menciptakan hari raya
ini.
Entah mengapa ikhlas memaafkan itu sulit menurut saya.
Seperti niat, ini bukan hanya perkara sebelum, tapi juga
pada saat dan setelahnya.
Bagaimana kita bisa memaafkan sebelum orang lain minta maaf,
menjaga maaf itu ketika orang itu mengingatkan kembali dengan minta maaf, dan
tetap menjaganya walau dihari yang akan datang luka itu terbuka lagi.
ikhlas itu ikhlas tanpa harus berkata ikhlas
itu sulit. Walau sulit bukan berarti tak mungkin.
Mungkin bisa dihitung jari berapakali saya benar-benar
mengikhlaskan sesuatu.
Karena ketika kita tidak lagi memikirkan keikhlasan, disitulah justru diri kita sedang mengikhlaskan.
Masalahnya buat saya itu butuh ruang yang cukup besar
(bahkan saya tak memiliki hati yang cukup luas) dan waktu yang cukup lama.
Sebenarnya bukan waktu yang menyembuhkan semuanya, tapi saya
nantinya sudah mulai bisa menerima.
Lagi-lagi ini tentang apakah waktu datang terlambat atau
tidak.
Saya khawatir apabila waktu datang terlambat maka saya,
sebagai manusia yg jauh dari sempurna, sudah tidak mampu lagi memberikan maaf
dengan ikhlas.
Tapi saya tidak boleh melebihi Tuhan.
Saya tidak bisa memilih siapa yang mau saya maafkan.
Saya berkewajiban untuk selalu belajar ikhlas.
Yes, I have to be kind :)
HAPPY EID MUBARAK 1433 H, MY FABULOUS READERS ;)
gladioheras
8/17/2012
Diingkari itu sakit. Iya. Tapi itu sudah biasa. Hukum
alam.
Sayangnya, yang kali ini terlalu sakit buat saya. Terlalu sakit
ketika hal itu dilakukan oleh orang yang saya menaruh percaya sepenuhnya. Oleh orang
yang saya yakin dia sangat menghargai komitmen. Oleh orang yang saya lebih
yakin lagi tidak akan menelan ludahnya sendiri.
Saya kecewa? Iya. Sangat.
Saya marah? Iya. Pada diri saya sendiri.
Saya benci? Tidak. Saya tidak cukup kuat untuk itu.
Saya memaafkan? Iya. Selalu begitu untuk dia.
Saya melupakan? Tidak sama sekali.
Saya berharap? Tidak lagi.
Saya ikhlas? Belum.
Saya menangis? Iya.
Saya terluka? Iya.
Saya bertanya? Terus-menerus. Pada si lemah, telinga.
Saya lelah? Belum. Mungkin akan.
Dia berbeda? Saya pikir. Dulu.
Dia sempurna? Tadinya.
Dia terpercaya? Tidak tau.
Dia jahat? Tidak. Saya bodoh.
Dia berharga? .
Dia berjanji? Iya.
Dia menepati? Semoga.
Dia menghindar? Memudar.
8/16/2012
8/15/2012
Hukuman yang terberat
-->
“Apa yang harus dilakukan pulpen pada kertas yang tidak
ingin lagi ia menorehkan tinta diatasnya? Mengganti tinta? Atau mengganti ujung
pena?”
“Mengganti kertas atau berhenti menuliskan apapun.”
Lalu seorang lelaki yang entah sudah berapa lama berjuang
untuk mendapatkan keinginannya. Kembali utuh seperti sediakala.
Entah sudah sejauh apa usaha yang sebenarnya ia lakukan.
Entah berapa banyak pengorbanan yang tidak sedikitpun ditengok. Tapi dalam
dimensi seorang gadis semuanya biasa saja. Cenderung membosankan. Tanpa jaminan
semua hal akan menjadi lebih baik bagi mereka, lelaki dan pasangannya.
Si lelaki berjalan cenderung berlari. (mantan) pasangannya
selangkah maju, dua langkah mundur. Si lelaki terus bertahan dan bertahan tanpa
usaha mempertahankan. Bagi si gadis itu tidak lebih dari nihil.
Lelaki itu seperti belum mampu membedakan ‘rasa’ dan
‘ambisi’. Dia tak sadar, lawan dari kasih sayang bukanlah lagi soal kebencian,
tapi ketidakpedulian. Diacuhkan adalah hukuman yang terberat. Bagaimana bisa
seorang manusia yang lahir ke bumi, dengan tangisan yang menyita perhatian,
kehadirannya dinafikan seperti debu.
Lelaki itu mengabaikan dunia yang sebenarnya luas, hanya
karena ia terlalu menyukai aroma kasurnya. Walau bahkan seberapapun ia hias
kasur itu, dia hanya bisa membawanya untuk terus tidur. Tak ada yang dapat ia
temui disana selain semu. Dan sesuatu yang semu itu dapat dipastikan akan cepat
pudar. Seindah apapun yang ia tawarkan.
Mungkin saja hidup itu butuh rehat
sejenak. Rehat dari semuanya, berjuang maupun diperjuangkan.
8/13/2012
Jangan bersandar di trotoar itu
“Mengapa kau tidak pernah memberikan rambu-rambu? Seperti kilat yang membuatku tidak mampu mempersiapkan sedikit tempat lebih luas untuk berlari.”
“Aku tak punya cukup ruang untuk menyimpan penyesalan
melihat kau berjalan bahkan walau hanya satu langkah dari sampingku.”
Si gadis berjalan menyusuri entah apa namanya. Mungkin
banyak orang menyebutnya jalan. Tapi bukankah jalan adalah sesuatu yang dapat
menghantarkan pada suatu tujuan? Sedangkan ia bahkan tidak punya tujuan.
Ia seperti melintasi kembali memori-memori masa lalunya.
Hanya sedikit sekali memori tentang sesuatu yang sedang ia susuri. Tapi mampu
menariknya untuk kembali lagi kesana.
Beberapa kali ia berhenti. Mungkin lelah. Atau tidak mampu
lagi mengeluh. Suara angin dan daun kering cukup membuatnya merasa
terintimidasi oleh memori masa lampau. Ia seperti tak mampu lagi berjalan meski
kakinya belum lelah. Matanya sudah cukup marah dipaksa melihat kembali apa yang
sebaiknya hanya sekelibat.
Ditekuknya kedua lutut. Bersimpuh. Ia tenggelamkan wajahnya
ke kedua telapak tangannya.
Lalu basah….
8/12/2012
Rain, please, don’t be angry
Sometimes I feel like I don’t know anything about you. I
don’t understand what kind of relationship that we have. I fully trust on our
promise. But I often have feeling doubt.
Or something kinda you didn’t know me at all. Or we have to
cover our feeling by our own self. None of us wanna try to start some
communication. Maybe feeling doubt. Or feeling afraid. Or feeling guilty. Oh I
don’t know for sure.
I think we are just too careful each other. Or maybe we
necessarily have to be careful, so careful. Oh once again, I don’t know.
As usual, when we have no communication for a long time,
everything will be so……….. but when you call me again, I feel so………. Oh I don’t
know, again.
I’m waiting for you, but I cant smile, or even happy. Why
always rain in the corner of my eyes? I don’t know, again and again. Rain,
please, don’t be angry.
me miss you
8/11/2012
Konglomerasi
Mungkin limit konglomerasi di Negara ini belum cukup jelas.
Begitu banyak perusahaan besar yang melakukan diversifikasi
horizontal.
Bahkan bukan sekedar melakukan diversifikasi tapi lebih pada
penguasaan.
Banyak sektor dikuasai oleh satu induk perusahaan.
Bahayanya lagi perusahaan yang dibentuk adalah perseroan
tertutup.
Merasa cukup untuk membuat keluarganya dan keturunannya
sajalah yang menikmati sumber daya yang ada di Negara ini.
Mereka terus-menerus melakukan ekspansi ke berbagai sektor yang dapat dicapai.
Mulai dari perkebunan, pertambangan, otomotif, hingga industri
makanan dikuasai oleh satu induk perusahaan yang pengelolaannya dilakukan oleh
satu garis keturunan.
Hingga tanpa disadari sudah tercipta jurang yang begitu
dalam antara si kaya dan si miskin.
Bahkan ketika mereka tidak mau menyebutnya jurang, kita
pantas mengganti menjadi benteng, atau yang lebih halus, tembok.
Tembok yang terbangun sudah terlanjur kokoh melebihi yang
dimiliki oleh china.
Seharusnya Negara inilah yang mendapatkan reward keajaiban
dunia.
Semakin hari tren pengkotak-kotakan kian terasa jelas.
Menyentuh setiap lapisan masyarakat, bahkan lapisan
usia pun ditembus.
Yang muda membuat tembok pergaulan dengan memberikan label
pada barang-barang yang dimiliki teman sepergaulannya.
Wanita dewasa membuat tembok melalui tempat yang digunakan
untuk pertemuan mereka.
Pria dewasa membuat tembok dengan gelar yang melekat pada
nama dan kendaraan yang mereka gunakan.
Bahkan para lansia membuat tembok dengan cara yang lebih
lucu, pekerjaan anak-anak mereka.
Mungkin sulit sekali bila kita ingin mengembalikan semuanya
menjadi seperti dulu.
Seperti saat semua suara di Negara ini sama, Satu.
Sudah terlalu rumit, sudah terlalu kental, sudah terlalu
mengakar, ya, sudah terlambat.
Tapi bukankah tidak ada kata terlambat untuk sesuatu yang
lebih baik?
Mungkin kita harus sama-sama melakukan ekspansi hati, egois
untuk memperluas hati kita melebihi yang dimiliki orang lain.
gladioheras
8/06/2012
"If you ask yourself why ARTISTS (DJs, singers, dancers, musicians or anyone who falls under the artist category) charge "so much" for performances...
We
don't get paid vacation, we don't get paid sick days, we don't get
bonuses for outstanding performances nor for Christmas. We don't have
insurance plans nor do we qualify for unemployment. We sacrifice our
family on special days so that we can bring
happiness to others. Illness or personal affairs are not excuses for a
bad performance. Next time you ask, remember that ARTISTS are ARTISTS
because of the love of music & art but that love doesn't pay debts."
- Antonio FariaWe don't get paid vacation, we don't get paid sick days, we don't get bonuses for outstanding performances nor for Christmas. We don't have insurance plans nor do we qualify for unemployment. We sacrifice our family on special days so that we can bring happiness to others. Illness or personal affairs are not excuses for a bad performance. Next time you ask, remember that ARTISTS are ARTISTS because of the love of music & art but that love doesn't pay debts."
p.s: oh i'm fallin love with you again and again, Darl.
8/05/2012
Ada yang meminta dikuliti setelah digarami
“Mengapa kau lebih senang menjadi matahari, direvolusi bukan merevolusi?”
“Katanya rambutku bau semut.”
Lalu seorang gadis dengan rokok di tangannya berjalan
menyusuri pantai.
Bercerita pada angin melalui asap yang berhembus dari
mulutnya.
Melindungi bara dari jilatan debur ombak.
Kadang pepohonan melihatnya menangis kelelahan melawan arus.
Mungkin dia juga lelah melihat langit merah selalu kalah
bertarung dengan gelap malam.
Si gadis terus berayun di atas kaki telanjangnya yang sedang
bercinta dengan butiran pasir berkulit halus.
Si gadis tau bahwa hamparan berwarna biru ini tak memiliki
ujung.
Tapi perjalanannya punya.
Pada seseorang yang dia sebut rumah, diterimanya pelukan
hangat.
Seperti nyaman yang berlipat, si gadis lumat setengah
lingkaran milik rumah itu.
Lalu tenang…
8/02/2012
Saya terlalu menikmati alunan music bossanova dan sejenisnya
belakangan ini. Semua jadi berjalan begitu santai, ya santai bukan lambat.
Terasa nikmatnya secara rinci. Setengah lingkaran yang menggaris dengan santai
dan menghilang dengan santai juga. Menyebrang pun saya jadi santai juga (ah
yang ini bodoh, saya memang tidak bisa menyebrang haha). Yang paling saya suka
adalah rungsing tapi santai (hayo bingung kan). Bossa itu bikin saya lebih
banyak diam, enak rasanya. Waktu seperti tidak mengejar-ngejar saya kalau saya
lebih banyak diam. Bicara saja lewat tulisan, tapi tetap lakukan dengan santai.
Ini nih list kegiatan yang paling sering saya bikin santai,
Jalan kaki
Di jalanan yang kanan kiri nya tumbuh banyak pohon. Cukup
teduh. Tidak banyak suara. Ada angin. Aaaah maaf kawan kalau kalian ada di
samping saya saat itu pasti saya akan lupa.
Bersepeda
Biarkan saya mengayuh entah kemana. Tidak peduli tersesat.
Melewati rumah-rumah. Melewati jalanan yang asing buat saya. Ditambah music
player dan headset yg menemani. Aaaaah ini pasti jadi sempurna tanpa adanya
jalan menanjak.
Duduk di jok penumpang
Karena sudah dua tahun ini saya tinggal di Bandung, ritual
ini banyak saya lakukan di mobil travel. Duduk di sisi kanan. Tepat di belakang
kursi supir lebih sempurna. Melihat keluar jendela. Hindari ngobrol. Tanpa
playlist saja sudah luar biasa, apalagi kalau ada. Aaaaah saya selalu berharap
sendirian dalam perjalalan itu.
Ah ya semuanya ber-landscape jalanan. Saya memang suka
berlama-lama dijalan. Saya menikmati semua perjalanan, even orang bilang itu
membosankan. Semakin jauh tempat yang akan saya kunjungi, biasanya saya semakin
tertarik. Ya tapi belakangan ini macet sering menjadi mimik menyeramkan.
Baiklah yang penting hidup ini kan tidak mengenal macet, hanya terkadang butuh
rehat sejenak.
Subscribe to:
Posts (Atom)









