“Mengapa kau lebih senang menjadi matahari, direvolusi bukan merevolusi?”
“Katanya rambutku bau semut.”
Lalu seorang gadis dengan rokok di tangannya berjalan
menyusuri pantai.
Bercerita pada angin melalui asap yang berhembus dari
mulutnya.
Melindungi bara dari jilatan debur ombak.
Kadang pepohonan melihatnya menangis kelelahan melawan arus.
Mungkin dia juga lelah melihat langit merah selalu kalah
bertarung dengan gelap malam.
Si gadis terus berayun di atas kaki telanjangnya yang sedang
bercinta dengan butiran pasir berkulit halus.
Si gadis tau bahwa hamparan berwarna biru ini tak memiliki
ujung.
Tapi perjalanannya punya.
Pada seseorang yang dia sebut rumah, diterimanya pelukan
hangat.
Seperti nyaman yang berlipat, si gadis lumat setengah
lingkaran milik rumah itu.
Lalu tenang…

No comments:
Post a Comment