
“Beginikah cara komunikasi yang aman bagi kita? Mencegah
adanya saling ketergantungan. Bahkan ketika sesungguhnya hal itu sudah ada,
kita tidak boleh menambahkannya”
“Setiap jalan mempunyai tikungannya masing-masing. Mungkin
di salah satu tikungan kita akan bertemu lagi.”
Lalu hujan turun deras sekali. Si gadis kecewa. Dia sungguh
sedang menunggu senja. Dia lupa kapan terakhir kali senja menyapanya dengan
ramah. Belakangan ini hujan seringkali turun di sore hari. Tapi apa mau dikata,
tidak ada hal yang dapat iya lakukan bukan? seperti halnya saat ia hanya dapat
membeku melihat seseorang pergi.
Segelas teh tarik hangat ia minum sedikit demi sedikit. secangkir minuman itu menjelma menjadi teman sejati baginya yang selalu mendengarkan keluh kesah hati.
Si gadis takut gelap. Ia tak pernah menunggu senja tanpa cahaya. Ia tak ingin gelap mendominasi
lebih banyak lagi aspek di kehidupannya. Terlebih ia sadar si pemompa udara
kini sudah tak lagi terang terintimidasi oleh benda kecil yang setiap hari ia
isap.
Ia sudah sangat rindu senja. Senja selalu mendengarkan,
tanpa menghakimi. Dia yang tak selalu ingin tahu. Dan mengerti hanya dalam
bisu.
Si gadis merubah posisi duduknya menjadi setengah tidur. Diam-diam
dia kembali ke memori tujuh tahun lalu. Ia tutup matanya. Sedikit demi sedikit
tubuhnya mulai terasa lemah.
Lalu ia tenggelam dalam angan….
No comments:
Post a Comment