Mungkin limit konglomerasi di Negara ini belum cukup jelas.
Begitu banyak perusahaan besar yang melakukan diversifikasi
horizontal.
Bahkan bukan sekedar melakukan diversifikasi tapi lebih pada
penguasaan.
Banyak sektor dikuasai oleh satu induk perusahaan.
Bahayanya lagi perusahaan yang dibentuk adalah perseroan
tertutup.
Merasa cukup untuk membuat keluarganya dan keturunannya
sajalah yang menikmati sumber daya yang ada di Negara ini.
Mereka terus-menerus melakukan ekspansi ke berbagai sektor yang dapat dicapai.
Mulai dari perkebunan, pertambangan, otomotif, hingga industri
makanan dikuasai oleh satu induk perusahaan yang pengelolaannya dilakukan oleh
satu garis keturunan.
Hingga tanpa disadari sudah tercipta jurang yang begitu
dalam antara si kaya dan si miskin.
Bahkan ketika mereka tidak mau menyebutnya jurang, kita
pantas mengganti menjadi benteng, atau yang lebih halus, tembok.
Tembok yang terbangun sudah terlanjur kokoh melebihi yang
dimiliki oleh china.
Seharusnya Negara inilah yang mendapatkan reward keajaiban
dunia.
Semakin hari tren pengkotak-kotakan kian terasa jelas.
Menyentuh setiap lapisan masyarakat, bahkan lapisan
usia pun ditembus.
Yang muda membuat tembok pergaulan dengan memberikan label
pada barang-barang yang dimiliki teman sepergaulannya.
Wanita dewasa membuat tembok melalui tempat yang digunakan
untuk pertemuan mereka.
Pria dewasa membuat tembok dengan gelar yang melekat pada
nama dan kendaraan yang mereka gunakan.
Bahkan para lansia membuat tembok dengan cara yang lebih
lucu, pekerjaan anak-anak mereka.
Mungkin sulit sekali bila kita ingin mengembalikan semuanya
menjadi seperti dulu.
Seperti saat semua suara di Negara ini sama, Satu.
Sudah terlalu rumit, sudah terlalu kental, sudah terlalu
mengakar, ya, sudah terlambat.
Tapi bukankah tidak ada kata terlambat untuk sesuatu yang
lebih baik?
Mungkin kita harus sama-sama melakukan ekspansi hati, egois
untuk memperluas hati kita melebihi yang dimiliki orang lain.
gladioheras
No comments:
Post a Comment