8/11/2012

Konglomerasi

Mungkin limit konglomerasi di Negara ini belum cukup jelas.
Begitu banyak perusahaan besar yang melakukan diversifikasi horizontal.
Bahkan bukan sekedar melakukan diversifikasi tapi lebih pada penguasaan.
Banyak sektor dikuasai oleh satu induk perusahaan.
Bahayanya lagi perusahaan yang dibentuk adalah perseroan tertutup.
Merasa cukup untuk membuat keluarganya dan keturunannya sajalah yang menikmati sumber daya yang ada di Negara ini.
Mereka terus-menerus melakukan ekspansi ke  berbagai sektor yang dapat dicapai.
Mulai dari perkebunan, pertambangan, otomotif, hingga industri makanan dikuasai oleh satu induk perusahaan yang pengelolaannya dilakukan oleh satu garis keturunan.
Hingga tanpa disadari sudah tercipta jurang yang begitu dalam antara si kaya dan si miskin.
Bahkan ketika mereka tidak mau menyebutnya jurang, kita pantas mengganti menjadi benteng, atau yang lebih halus, tembok.
Tembok yang terbangun sudah terlanjur kokoh melebihi yang dimiliki oleh china.
Seharusnya Negara inilah yang mendapatkan reward keajaiban dunia.

Semakin hari tren pengkotak-kotakan kian terasa jelas.
Menyentuh setiap lapisan masyarakat, bahkan lapisan usia  pun ditembus.
Yang muda membuat tembok pergaulan dengan memberikan label pada barang-barang yang dimiliki teman sepergaulannya.
Wanita dewasa membuat tembok melalui tempat yang digunakan untuk pertemuan mereka.
Pria dewasa membuat tembok dengan gelar yang melekat pada nama dan kendaraan yang mereka gunakan.
Bahkan para lansia membuat tembok dengan cara yang lebih lucu, pekerjaan anak-anak mereka.
Mungkin sulit sekali bila kita ingin mengembalikan semuanya menjadi seperti dulu.
Seperti saat semua suara di Negara ini sama, Satu.
Sudah terlalu rumit, sudah terlalu kental, sudah terlalu mengakar, ya, sudah terlambat.

Tapi bukankah tidak ada kata terlambat untuk sesuatu yang lebih baik?
Mungkin kita harus sama-sama melakukan ekspansi hati, egois untuk memperluas hati kita melebihi yang dimiliki orang lain.





gladioheras

No comments:

Post a Comment