8/15/2012

Hukuman yang terberat



-->
“Apa yang harus dilakukan pulpen pada kertas yang tidak ingin lagi ia menorehkan tinta diatasnya? Mengganti tinta? Atau mengganti ujung pena?”

“Mengganti kertas atau berhenti menuliskan apapun.”


Lalu seorang lelaki yang entah sudah berapa lama berjuang untuk mendapatkan keinginannya. Kembali utuh seperti sediakala.

Entah sudah sejauh apa usaha yang sebenarnya ia lakukan. Entah berapa banyak pengorbanan yang tidak sedikitpun ditengok. Tapi dalam dimensi seorang gadis semuanya biasa saja. Cenderung membosankan. Tanpa jaminan semua hal akan menjadi lebih baik bagi mereka, lelaki dan pasangannya.
Si lelaki berjalan cenderung berlari. (mantan) pasangannya selangkah maju, dua langkah mundur. Si lelaki terus bertahan dan bertahan tanpa usaha mempertahankan. Bagi si gadis itu tidak lebih dari nihil.

Lelaki itu seperti belum mampu membedakan ‘rasa’ dan ‘ambisi’. Dia tak sadar, lawan dari kasih sayang bukanlah lagi soal kebencian, tapi ketidakpedulian. Diacuhkan adalah hukuman yang terberat. Bagaimana bisa seorang manusia yang lahir ke bumi, dengan tangisan yang menyita perhatian, kehadirannya dinafikan seperti debu.

Lelaki itu mengabaikan dunia yang sebenarnya luas, hanya karena ia terlalu menyukai aroma kasurnya. Walau bahkan seberapapun ia hias kasur itu, dia hanya bisa membawanya untuk terus tidur. Tak ada yang dapat ia temui disana selain semu. Dan sesuatu yang semu itu dapat dipastikan akan cepat pudar. Seindah apapun yang ia tawarkan.

Mungkin saja hidup itu butuh rehat sejenak. Rehat dari semuanya, berjuang maupun diperjuangkan.

No comments:

Post a Comment