-->
“Apa yang harus dilakukan pulpen pada kertas yang tidak
ingin lagi ia menorehkan tinta diatasnya? Mengganti tinta? Atau mengganti ujung
pena?”
“Mengganti kertas atau berhenti menuliskan apapun.”
Lalu seorang lelaki yang entah sudah berapa lama berjuang
untuk mendapatkan keinginannya. Kembali utuh seperti sediakala.
Entah sudah sejauh apa usaha yang sebenarnya ia lakukan.
Entah berapa banyak pengorbanan yang tidak sedikitpun ditengok. Tapi dalam
dimensi seorang gadis semuanya biasa saja. Cenderung membosankan. Tanpa jaminan
semua hal akan menjadi lebih baik bagi mereka, lelaki dan pasangannya.
Si lelaki berjalan cenderung berlari. (mantan) pasangannya
selangkah maju, dua langkah mundur. Si lelaki terus bertahan dan bertahan tanpa
usaha mempertahankan. Bagi si gadis itu tidak lebih dari nihil.
Lelaki itu seperti belum mampu membedakan ‘rasa’ dan
‘ambisi’. Dia tak sadar, lawan dari kasih sayang bukanlah lagi soal kebencian,
tapi ketidakpedulian. Diacuhkan adalah hukuman yang terberat. Bagaimana bisa
seorang manusia yang lahir ke bumi, dengan tangisan yang menyita perhatian,
kehadirannya dinafikan seperti debu.
Lelaki itu mengabaikan dunia yang sebenarnya luas, hanya
karena ia terlalu menyukai aroma kasurnya. Walau bahkan seberapapun ia hias
kasur itu, dia hanya bisa membawanya untuk terus tidur. Tak ada yang dapat ia
temui disana selain semu. Dan sesuatu yang semu itu dapat dipastikan akan cepat
pudar. Seindah apapun yang ia tawarkan.
Mungkin saja hidup itu butuh rehat
sejenak. Rehat dari semuanya, berjuang maupun diperjuangkan.

No comments:
Post a Comment