10/27/2013

...







Sepanjang malam ia terjaga. Untuk pertama kalinya ia banyak berkata-kata tanpa berfikir terlebih dahulu. Malam ini ia terlalu banyak bercerita. Apa yang terucap tak lagi bisa ia tata.

“Sejak luka itu dimulai, ia sudah ada.”

Si gadis berfikir keras. Mungkin itulah sebabnya mengapa ia bertahan terlalu keras. Walau tidak cukup yakin dengan apa yang baru saja ia pikirkan. Ia takut untuk sendiri. Ia benar-benar takut untuk berjalan sendiri. Karena ternyata ia tidak pernah sendiri.

Kalau memang benar karena itu, ia jahat.
Mungkin itulah mengapa ia tak pernah merasa cukup hangat. Mungkin itulah mengapa ia tak pernah bisa menangis. Mungkin itulah mengapa ia tak pernah banyak bercerita. Ia bertahan karena butuh sandaran. Ya, sandaran yang bekerja sesuai takdirnya, untuk bersandar. Hanya itu,

Mungkin sekarang ia mulai kedinginan. Mungkin sekarang ia mulai butuh jawaban. Mungkin sekarang ia mulai butuh tarikan. Mungkin ia mulai lelah berjalan menuju sandaran itu.

Ia takut benar. Ia takut bahwa semua pikirannya adalah benar.

No comments:

Post a Comment