Saya seringkali kecewa ketika mendapati bahwa saya baru saja mengeluh.
Pada dasarnya saya mempunyai keyakinan bahwa mengeluh itu
berkolerasi sangat besar dengan ketidakbahagiaan.
Menghentikan diri untuk tidak mengeluh sama sekali itu
sulit.
Mengeluh sudah seperti kebiasaan yang kadang saya lakukan
tanpa sadar.
Sekarang saya sudah menemukan cara untuk mencegah saya
mengeluh, yaitu berlari.
Ya, berlari.
Mungkin saya tidak lagi butuh mengeluh kalau saya punya
banyak waktu untuk berlari.
Berlari itu tenang.
Berlari itu mencegah saya untuk berbicara.
Berlari itu mencuci paru-paru dan pikiran saya.
Berlari itu tidak sekedar olah raga buat saya.
Kadang ketika saya merasa terlalu lelah, saya justru butuh
untuk berlari.
Pada ¼ lap pikiran saya mulai liar menjalar.
Menambah kecepatan ketika saya ingin marah, menguranginya
ketika bahagia berlebihan.
Saya tertawa, menangis, marah, tanpa suara.
Berlari justru memberi efek yang lebih baik bagi perasaan
dan pikiran saya, dibandingkan tubuh.
Berlari adalah teman bercerita.
Kadang ketika saya bercerita terlalu sering tentang sesuatu
hal, saya menjadi semakin tenggelam dalam cerita itu.
Bisa jadi saya menjadi terbang terlalu tinggi, atau jatuh
terlalu rendah.
Saya butuh berlari untuk mengembalikan diri ke posisi semula,
posisi yang semestinya.
Berlari adalah cara saya untuk tetap seimbang.
Berlari adalah cara saya untuk tetap berpijak.
No comments:
Post a Comment