“Bisakah aku tau kapan kau akan pergi?”
“Tuhan selalu punya cara yang elegan untuk setiap hal yang
ingin Ia tunjukkan”.
Sudah
sedari tadi si gadis menutup matanya, tapi entah mengapa kepalanya
terus-menerus menyusuri lorong-lorong tanpa ujung itu. Penyesalan tak pernah
berhenti mengiringi setiap jengkal yang ia lewatkan. Ada banyak kata
‘seharusnya’ yang menghalangi tepat di depan pintu yang harus ia buka.
‘seharusnya’ seperti gravitasi. Selalu menang. Terlalu kuat.
Dingin
sudah semakin lihai menembus celah-celah jendela. Ia seolah tak lagi mengenal
iba membagi beku di malam itu. Ia mencoba menembus selimut dan kaus kaki yang
dipakai si gadis.
Flu.
Lagi-lagi flu yang bersedia memeluk si gadis dengan sangat erat. Hidungnya
memerah. Samar. Entah akibat pelukan flu yang terlalu erat atau itu adalah
pelangi setelah hujan deras di ujung kedua matanya.
Sesungguhnya
si gadis tidak benar-benar bodoh ketika ia tetap menikmati kebodohan itu dengan
penuh kesadaran bahwa hal itu bodoh. That’s what called lost aversion….

are you oke?
ReplyDeletemaybe it's called "life lesson". kita mesti nyari terus - entah sampe kapan. tapi ketika kita menemukan itu ya 'we are the real winner'. berhasil ngelawan ego diri, ngadepin lingkungan dengan segala kerewelannya dan mulai enjoy dengan diri sendiri dan kehidupan sendiri.
so, nikmatin perjalanannya gla.
*sambil ngomong ke diri sendiri* haha :D
everything's alright dear :* you're right. thankyou so much anyway :*
ReplyDelete