Seperti janjinya sejak semula, si gadis tidak menahan
kepergiannya sedikit pun. Mungkin semuanya sudah cukup. Pasti semuanya sudah
cukup. Hati siapapun boleh terluka, kecuali Tuhan. Semuanya sudah diduga. Sebenarnya
tidak ada yang tiba-tiba, hanya saja dirinya selalu berusaha lupa.
Tidak ada yang meleset. Semuanya tepat. Sama persis seperti
yang sudah dibayangkan. Diminta berhenti dan tidak diberikan pilihan lain. Dia
pasti sudah sangat lelah. Bukan lagi butuh istirahat atau berhenti dalam waktu
yang cukup lama. Tapi pergi.
Ia gemetar. Hanya sakit tak terkira setiap kali mengingat
bagaimana seseorang yang sama sekali tidak romantis bisa membuatnya selalu
tersipu. Bagaimana seseorang yang cuek bisa membuatnya merasa tidak pernah
sendiri. Bagaimana seseorang yang tidak pernah melucu tetapi selalu membuatnya
tertawa. Bagaimana segala kebodohan yang mereka lakukan justru menjadi begitu
menyenangkan. Dan menjadi sangat sakit ketika mengingat bagaimana itu semua
tidak akan dirasakan lagi.
Dan untuk yang masih tersisa, apapun itu, biarkan si gadis
mengurusnya sendiri.
No comments:
Post a Comment