“Tuhan, mengapa kita tidak bisa bersatu?”
“Kalian berbeda dalam mengeja namaKu.”
Berulangkali ia mengajukan pertanyaan yang sama kepada
Tuhan. Tetapi jawabannya tetap sama, air mata. Bahkan Tuhan tidak mempunyai
jawaban untuk diberikan kepada gadis itu. Atau mungkin saja Tuhan hanya punya jawaban yang tidak ingin
didengar si gadis, maka Ia urungkan niat untuk menjawabnya.
Ia tidak pernah sesakit ini. Membuat sketsa masa depan,
untuk kemudian dijalankan oleh orang lain. Bersama orang yang sebenarnya ingin
ia pilih. Ia sudah melakukan banyak cara. Ia ikat kaki kirinya dengan kaki
kanan orang itu. Berharap akan tercipta arah baru yang membuat mereka bisa
berjalan sejajar, berdampingan.
Kalau saja ini soal apa yang melekat pada tubuhnya. Kalau
saja ini bukan soal apa yang menjadi bagian tubuhnya. Kalau saja prinsip itu
adalah pakaian, bukan darah. Kalau saja ia merindukan si gadis seperti ia merindukan
Jerusalem. Kalau saja mereka tidak mengenal ‘kalau saja’...

No comments:
Post a Comment