2/02/2013

Snorkeling




“Mengapa kau terlalu takut untuk  melihat keindahan  lebih dalam?”

“Aku tidak suka gelap. Aku benci klimaks”.



Sore ini turun hujan. Tidak gemuk, tapi ramai. Dan langit sepertinya sedang bahagia. Warnanya kuning terang. Padahal sudah pukul setengah tujuh sore. Tetap pada posisinya sejak tiga jam yang lalu, si gadis duduk diam memandang rumput dari depan teras. Ia memilih untuk berhimpitan dengan dinginnya lantai daripada meminta hangat dari sofa.

Kepalanya terasa berat. Banyak yang bergelayutan di atas sana. Kalau saja bisa lebih tegak, mungkin mata itu tidak akan basah lagi. Ada ngilu yang tidak bisa dijelaskan setiap kali pikiran itu terlintas. Baru sebentar ia tahu, tapi entah mengapa mudah saja hal itu menariknya. Entah si gadis yang terlalu lemah, atau memang tarikan itu terlalu kuat. Ia hanya tidak ingin bercumbu lagi dengan gravitasi. Ia tidak suka dikelilingi gravitasi.

Ia melihat dengan jelas wajah itu. Wajah penuh kekhawatiran yang ditujukan bukan kepadanya. Ia hanya bisa tersenyum. Ah tidak, ia harus bisa tersenyum lebih tepatnya. Satu hal yang akhirnya kini dapat ia terima, that’s everybody fake, yeah, everybody (sometimes) have to be fake..

2 comments: